Terapi Wicara Anak: Kapan Orang Tua Harus Mulai, Biaya, dan Prosedur di RSIJ
Dipublikasikan: 30 June 2026
2,890 dilihat
Kategori: Kesehatan Anak

Terapi wicara anak adalah layanan rehabilitasi medis untuk membantu anak dengan gangguan bicara, bahasa, atau menelan. Kapan mulai? Setelah tanda keterlambatan bicara terdeteksi, idealnya sebelum usia 3 tahun. Berapa sesi? Tergantung tingkat keparahan: kondisi ringan 8-16 sesi, sedang 16-32 sesi, berat 32 sesi ke atas. Biaya terapi wicara anak Jakarta bervariasi dan dapat ditanggung BPJS Kesehatan jika ada rujukan dari dokter. Layanan tersedia di Klinik Rehabilitasi Medik RSIJ Cempaka Putih. 

Apa itu Terapi Wicara Anak?

Terapi wicara adalah layanan kesehatan yang dilakukan oleh terapis wicara (speech-language pathologist)  untuk menangani orang yang punya masalah dalam berkomunikasi atau gangguan menelan. Dalam terapi ini, pasien akan diperiksa, didiagnosis, lalu diberikan latihan yang disesuaikan dengan kondisinya masing-masing, supaya bisa berkomunikasi lebih lancar dan lebih aman saat makan atau minum.

Terapi wicara berfokus pada dua hal utama. Pertama, melatih otot-otot mulut agar bisa menghasilkan suara dengan baik, sehingga anak bisa bicara lebih lancar, pengucapannya jelas, dan suaranya cukup terdengar. Kedua, membantu anak untuk lebih memahami bahasa sekaligus melatih kemampuannya dalam mengungkapkan apa yang ingin disampaikan.

Terapi Wicara vs Terapi Okupasi

Terapi Wicara adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu atau kelompok untuk memulihkan serta mengupayakan kompensasi dan adaptasi fungsi komunikasi, bicara dan menelan melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi (fisik, elektroterapeutis dan mekanis). Terapi Okupasi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang ditujukan kepada individu atau kelompok untuk mengembangkan, memelihara, memulihkan fungsi serta mengupayakan kompensasi dan adaptasi untuk aktivitas sehari-hari (Activities of Daily Living), produktivitas dan waktu luang melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi.

Perbedaan terapi wicara dan terapi okupasi

Banyak orang tua yang masih bingung membedakan terapi wicara dan terapi okupasi. Keduanya sama-sama masuk dalam layanan rehabilitasi medik dan sering diberikan bersamaan, tetapi memiliki fokus yang berbeda: 

Terapi Wicara

  • Fokus utama: Kemampuan bicara, bahasa, dan menelan 
  • Yang dilatih: Otot mulut, pemahaman bahasa, ekspresi verbal dan non-verbal
  • Contoh kondisi: Speech delay, gagap, autisme, disfagia
  • Tujuan: Anak bisa berkomunikasi dengan lebih efektif 

Terapi Okupasi 

  • Fokus utama: Kemampuan fungsional dan aktivitas sehari-hari  
  • Yang dilatih: Motorik halus, integrasi sensorik, kemandirian
  • Contoh kondisi: Autisme, ADHD, gangguan sensorik, cerebral palsy
  • Tujuan: Anak bisa beraktivitas mandiri sehari-hari

Kapan keduanya perlu dikombinasikan?

Berdasarkan panduan Keputusan Menteri Kesehatan RI/378 (2008), pada anak dengan keterlambatan bicara yang disertai gangguan perhatian dan konsentrasi, terapi okupasi perlu diberikan bersamaan agar terapi wicara bisa berjalan optimal. Kondisi yang umumnya memerlukan kombinasi keduanya antara lain:

  • Autisme spektrum dengan gangguan komunikasi sekaligus gangguan sensorik
  • Cerebral palsy dengan gangguan bicara sekaligus gangguan motorik
  • Speech delay dengan gangguan perhatian/konsentrasi
  • Anak dengan hipersensitivitas sensorik yang menghambat proses terapi wicara

Kenapa Melakukan Terapi Wicara?

Kebanyakan yang menjalani terapi wicara adalah anak-anak karena kasus keterlambatan bicara pada anak cukup banyak ditemukan. Meski begitu, terapi wicara tidak hanya untuk anak yang mengidap gangguan bicara atau kesulitan memahami bahasa. Terapi ini juga dapat membantu mengatasi kondisi lain. Misalnya, seperti gangguan menelan.

Berikut beberapa kriteria gangguan bicara pada anak-anak yang membutuhkan terapi wicara: 

1. Tidak Lancar Berbicara

Kondisi anak dikatakan gagap jika tidak lancar berbicara dan mengulangi suku kata atau ucapannya terhenti di huruf-huruf tertentu.

2. Gangguan Artikulasi

Terapi wicara diperlukan bila anak kesulitan dalam mengucapkan bunyi atau suku kata tertentu dengan jelas, sehingga orang lain sering tidak mengerti apa yang ia katakan.

3. Suara Anak Tidak Jelas 

Anak yang mengalami gangguan ini biasanya berbicara dengan suara kecil dan tidak jelas, bahkan kadang merasa tidak nyaman atau kesakitan saat berbicara.

4. Kosakata Terbatas 

Anak kesulitan menyusun kata-kata menjadi kalimat yang utuh, bisa karena kosakatanya masih sedikit atau belum bisa menempatkan kata dengan tepat saat berbicara. 

5. Gangguan Kognitif

Gangguan ini memengaruhi kemampuan anak dalam berpikir, mengingat, fokus, dan memecahkan masalah yang dia hadapi. Anak dengan gangguan ini juga kesulitan untuk berkomunikasi dengan baik.

6. Autisme 

Dokter mungkin akan merekomendasikan terapi ini pada anak yang mengidap autisme. Sebab autisme dapat membuat pengidapnya mengalami gangguan bicara dan komunikasi nonverbal. 

7. Mutisme

Anak yang mengidap kondisi ini sebenarnya bisa berbicara normal di rumah, tapi cenderung tidak mau bicara sama sekali saat berada di tempat umum seperti sekolah. 

8. Kesulitan Memahami Bahasa

Terapi wicara juga dapat membantu anak-anak yang kesulitan untuk memahami perkataan atau pembicaraan orang lain atau bahkan perintah sederhana sekalipun.

Penyebab Keterlambatan Bicara

Anak yang terlambat bicara bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti gangguan pendengaran, masalah pada otak (contohnya seperti disabilitas intelektual atau kesulitan memahami dan menggunakan bahasa), autisme, hingga masalah pada organ mulut yang membuat anak susah mengucapkan kata-kata dengan benar.

Untuk mengetahui penyebab pastinya, dokter perlu melakukan pemeriksaan yang menyeluruh. Bahkan dalam banyak kasus, dibutuhkan kerja sama dari beberapa dokter sekaligus, seperti dokter anak, dokter THT, serta psikolog atau psikiater anak. Untuk penanganannya, cara yang digunakan tergantung pada penyebabnya. Proses ini biasanya melibatkan tim yang terdiri dari dokter anak, terapis wicara, dan orang tua anak.

Jenis Gangguan yang Ditangani Terapi Wicara

Terapi wicara menangani berbagai jenis gangguan bicara dan bahasa. Berikut kondisi-kondisi yang paling umum ditemui:

1. Keterlambatan Bicara (Speech Delay) 

Anak terlambat mencapai tonggak perkembangan bicara sesuai usianya. Berdasarkan jurnal CDK (Cermin Dunia Kedokteran), keterlambatan bicara dan bahasa terjadi pada 2,3–19% anak usia 2–7 tahun dan sebagian besar terdiagnosis sebelum usia 3 tahun. Kondisi ini 1,5 kali lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Jika dideteksi dan ditangani sejak dini, prognosisnya umumnya baik. 

2. Gangguan Bahasa (Language Disorder) 

Gangguan bahasa dibedakan menjadi dua jenis: gangguan bahasa ekspresif (kesulitan mengungkapkan pikiran lewat kata-kata) dan gangguan bahasa reseptif (kesulitan memahami apa yang diucapkan orang lain), meski kemampuan bicara fisiknya bisa terlihat normal.

3. Gangguan Artikulasi 

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), gangguan artikulasi adalah kondisi di mana anak mengalami kesulitan melafalkan kata-kata secara tepat. Kondisi ini secara umum dikenal sebagai cadel, yaitu gangguan yang terjadi akibat adanya masalah pada pergerakan atau koordinasi organ mulut. Hal ini menyebabkan anak tidak bisa mengucapkan huruf tertentu seperti 'r', 's', atau 'l' dengan benar, sehingga ucapannya menjadi sulit dipahami oleh orang lain.

4. Gagap (Stuttering) 

Gangguan kelancaran bicara yang ditandai dengan pengulangan kata, pemanjangan bunyi, atau terhentinya bicara di tengah kalimat. Kondisi ini termasuk dalam kelompok keterlambatan bicara primer yang dapat ditangani melalui intervensi dini. 

5. Gangguan Suara 

Masalah pada kualitas, nada, atau volume suara yang tidak sesuai dengan usia dan jenis kelamin anak, sehingga mengganggu kemampuan berkomunikasi sehari-hari.

6. Gangguan Menelan (Disfagia) 

Kesulitan mengunyah atau menelan dapat berdampak pada asupan nutrisi anak. Kondisi ini juga masuk dalam ruang lingkup penanganan terapis wicara.

7. Gangguan Bicara akibat Kondisi Lain 

Keterlambatan bicara dan bahasa sekunder dapat menjadi bagian dari kondisi lain seperti gangguan pendengaran, disabilitas intelektual, autisme, cerebral palsy, dan gangguan psikososial. Penanganannya membutuhkan pendekatan tim multidisiplin.

Estimasi Frekuensi Sesi Terapi per Kondisi

Estimasi ini bersifat umum. Jumlah sesi aktual akan ditentukan oleh terapis setelah asesmen awal. Intervensi dini (sebelum usia 5 tahun) umumnya memerlukan lebih sedikit sesi dibandingkan intervensi yang dimulai lebih lambat. 

Tingkat Kondisi

Frekuensi/Minggu

Estimasi Total Sesi

Durasi Program

Ringan

1-2x seminggu

816 sesi

2-4 bulan

Sedang

2-3x seminggu

16-32 sesi

3-6 bulan

Berat

3-5x seminggu

32-sesi

6-12 bulan atau lebih

Proses Terapi Wicara di Klinik

1. Asesmen Awal 

Sebelum terapi dimulai, terapis wicara akan melakukan asesmen menyeluruh. Berdasarkan survei terhadap 335 terapis wicara yang diterbitkan di jurnal Folia Phoniatrica et Logopaedica (2023), terapis wicara secara rutin menggunakan berbagai tes bahasa standar saat menilai kemampuan anak, mencakup beberapa domain sekaligus untuk mendapatkan gambaran kondisi anak yang menyeluruh. 

Selain tes standar, wawancara dengan orang tua juga menjadi bagian penting untuk menggali riwayat perkembangan anak. Hasil asesmen menjadi dasar program terapi yang dipersonalisasi, lengkap dengan penjelasan diagnosis dan target terapi kepada orang tua.

2. Program Terapi Individual 

Setiap sesi terapi dirancang khusus untuk masing-masing anak dengan aktivitas yang menarik seperti permainan, lagu, cerita, dan media visual. Sebuah studi di BMJ Open (2023) menegaskan bahwa gangguan bicara yang tidak ditangani berdampak luas pada pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan mental anak di masa depan, sehingga program terapi individual yang terstruktur sejak dini menjadi investasi penting bagi tumbuh kembang anak.

3. Keterlibatan Orang Tua 

Program terapi yang efektif tidak berhenti di ruang terapis. Sebuah systematic review menemukan bahwa program latihan di rumah yang dijalankan orang tua terbukti lebih efektif dibandingkan tanpa intervensi sama sekali, selama intensitas latihan memadai dan orang tua mendapat pelatihan langsung dari terapis. 

4. Evaluasi Berkala 

Perkembangan anak dievaluasi secara rutin untuk memastikan program berjalan efektif. Deteksi dan intervensi awal pada keterlambatan bicara terbukti memperbaiki aspek emosi, sosial, dan kognisi anak secara signifikan. Orang tua akan mendapat laporan perkembangan rutin dari terapis sebagai bahan evaluasi bersama.

Kapan Harus Melakukan Terapi Wicara?

Supaya hasilnya maksimal, terapi wicara sebaiknya dimulai sedini mungkin. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap tumbuh kembang bicara anak sejak dini. Setiap anak memang punya kecepatan tumbuh kembang yang berbeda-beda. Tapi ada patokan perkembangan bicara yang perlu orang tua perhatikan.

Menurut IDAI, keterlambatan bicara dan bahasa dialami oleh 5–8% anak usia prasekolah. Agar tidak terlambat mendeteksinya, orang tua perlu tahu tahapan bicara anak yang normal di setiap usia, dan segera waspada bila ada tanda-tanda anak membutuhkan terapi wicara, yaitu:

  • Usia 0-6 bulan: Waspada bila bayi tidak menoleh saat dipanggil namanya dari belakang dan belum ada babbling (mengoceh). 
  • Usia 6-12 bulan: Waspada bila bayi tidak menunjuk dengan jari pada usia 12 bulan atau ekspresi wajahnya kurang. 
  • Usia 12-18 bulan: Waspada bila anak belum bisa mengucapkan satu kata pun yang bermakna di usia 16 bulan. 
  • Usia 18-24 bulan: Waspada bila anak belum bisa membuat kalimat dua kata yang bisa dipahami di usia 24 bulan. 

Apabila ada salah satu tanda di atas, segera bawa anak ke dokter. Dan secara umum, pada usia berapapun, bawalah anak ke dokter jika menunjukkan kemunduran dalam kemampuan bicara atau kemampuan sosialnya.

Jika si kecil sudah berusia 2 tahun namun belum menunjukkan perkembangan bicara yang sesuai, penting bagi orang tua untuk memahami apa yang normal dan apa yang perlu diwaspadai. Baca panduan lengkapnya di sini: Anak 2 Tahun Belum Bisa Bicara: Normalkah? Ini Panduan Lengkap untuk Orang Tua 

Biaya Terapi Wicara Anak Jakarta dan Cara Pembayaran

RSIJ Cempaka Putih menyediakan layanan terapi wicara dengan berbagai pilihan pembayaran: 

Jenis Pembayaran

Estimasi Biaya per Sesi

Keterangan

BPJS Kesehatan 

Ditanggung BPJS

Perlu surat rujukan dari dokter/puskesmas

Asuransi Swasta

Sesuai poli asuransi

Hubungi pihak asuransi untuk konfirmasi

Tunai atau Mandiri

Hubungi 0812-1349-1516

Info biaya terkini langsung dari klinik 

 

Jadwal Terapi Wicara RSIJ Cempaka Putih

Jadwal terapi wicara di RSIJCP tersedia di Klinik Rehabilitasi Medik Gedung IGD Lt. 4-6 pada hari Senin-Sabtu (08.00-16.00 WIB).

Info dan pendaftaran dapat hubungi:

  • BPJS: 0858-5005-0010 
  • Pendaftaran Asuransi & Tunai: 0812-1349-1516

FAQ Seputar Terapi Wicara

1. Apa itu terapi wicara anak?

Terapi wicara adalah layanan kesehatan yang dilakukan oleh terapis wicara untuk menangani masalah komunikasi atau gangguan menelan. Dalam terapi ini, anak akan diperiksa, didiagnosis, lalu diberikan latihan yang disesuaikan dengan kondisinya, mulai dari melatih otot mulut agar bisa menghasilkan suara dengan baik, hingga membantu anak memahami dan mengungkapkan bahasa dengan lebih lancar.

2. Kapan anak perlu segera dibawa ke terapis wicara?

Segera konsultasikan dengan dokter jika anak belum mengucapkan satu kata bermakna di usia 16 bulan, belum bisa membuat kalimat dua kata di usia 24 bulan, atau menunjukkan kemunduran dalam kemampuan bicara atau sosialnya di usia berapa pun. Menurut IDAI, keterlambatan bicara dialami 5-10% anak usia prasekolah dan sebagian besar terdiagnosis sebelum usia 3 tahun.

3. Kondisi apa saja yang bisa ditangani oleh terapi wicara?

Terapi wicara menangani berbagai kondisi, antara lain keterlambatan bicara, gangguan bahasa ekspresif dan reseptif, gangguan artikulasi, gagap, gangguan suara, gangguan menelan, serta gangguan bicara akibat kondisi lain seperti autisme, cerebral palsy, gangguan pendengaran, dan disabilitas intelektual.

4. Apakah biaya terapi wicara anak di Jakarta bisa ditanggung BPJS?

Ya. Terapi wicara di RSIJ Cempaka Putih dapat ditanggung BPJS Kesehatan dengan syarat peserta aktif dan memiliki surat rujukan dari Faskes Tingkat Pertama seperti Puskesmas atau dokter keluarga. Untuk informasi biaya dan prosedur terkini, hubungi 0812-1349-1516.

Disclaimer
Informasi dalam artikel ini bertujuan sebagai edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter. Setiap kondisi kesehatan memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga diagnosis dan penanganan yang tepat sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis profesional.

 

Assalamu'alaikum👋

Ada yang bisa kami bantu?

✕
Pengaduan & layanan Pelanggan Admin Online
Medical Check Up Informasi MCU Online
Pribadi, Asuransi Dan Perusahaan Pendaftaran Rawat Jalan Online
BPJS Pendaftaran Rawat Jalan Online
Chat WhatsApp