Jakarta, 20 April 2026 - Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih (RSIJCP) berkomitmen penuh dalam menekan angka kematian ibu dan bayi melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop bertajuk "Optimalisasi Penanganan Awal & Rujukan Kasus Kritis Ibu & Neonatus" yang digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, RSIJ Cempaka Putih.
Workshop yang diselenggarakan pada tanggal 9 April 2026 ini turut dihadiri oleh Direktur Pelayanan RSIJCP, dr. Aldila S Al Arfah, MMR. Kegiatan ini juga melibatkan dr. Ribkhi Amalia Putri, Sp.OG, MPH selaku ketua Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK) RSIJCP. Acara ini dipandu oleh moderator dr. Auditya Widyasari, MARS, serta MC Aisyah, S.Kep. Kegiatan berlangsung interaktif dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari dokter spesialis RSIJCP.
Adapun narasumber yang hadir:
Dalam sambutannya, dr. Aldila S Al Arfah, MMR, mengatakan penurunan angka kematian ibu dan bayi bukan hanya sekadar target angka, melainkan tanggung jawab kemanusiaan yang menjadi prioritas utama kami. Salah satu bentuk komitmen RSIJ Cempaka Putih dalam meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya dalam penanganan kasus maternal dan neonatal, adalah dengan mengadakan workshop ini. Harapannya, dengan langkah ini semoga dapat membekali tenaga kesehatan dengan kompetensi yang mumpuni, serta kemampuan stabilisasi dan transportasi rujukan pasien yang semakin andal, sehingga dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Selanjutnya, dr. Ribkhi Amalia Putri, Sp.OG, MPH selaku Ketua PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) dalam sambutannya turut menyampaikan bahwa “Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia terus menurun pada tahun 2022, tetapi Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sangat tinggi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), AKI masih berada di kisaran 305 per 100 ribu kelahiran pada Januari 2023. Mengejar target penurunan angka kematian bayi bukan sekadar urusan data, melainkan tanggung jawab kemanusiaan. Melalui workshop ini, kami ingin memastikan setiap tenaga kesehatan memiliki kesiapan dan standar patient safety yang seragam. Kemampuan stabilisasi serta transportasi rujukan yang mumpuni adalah kunci utama untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa ibu dan bayi.”
Pada sesi pertama, dr. Mushlihani, Sp.OG dalam pemaparan materinya menegaskan bahaya perdarahan antepartum, yaitu kondisi serius yang meningkatkan risiko kematian ibu hingga 50 persen. Deteksi dini dan penanganan cepat adalah harga mati,” tegas dr. Mushlihani.
Sesi kedua, dr. Desiana Dharmayani, Sp.A menjelaskan materi “Resusitasi Neonatus dan Stabilisasi Transportasi Rujukan”. Dalam penjelasannya Sebanyak 4–10% bayi baru lahir memerlukan sebagian tindakan resusitasi, karena itu, setiap tenaga kesehatan yang menangani persalinan wajib siap dan terlatih menghadapi kondisi ini. Melakukan ventilasi yang efektif merupakan kunci keberhasilan hampir semua resusitasi neonatus. Tanpa ventilasi yang baik, tindakan lain apa pun tidak akan memberi hasil yang optimal.
Pada sesi ketiga, Ns. Uswatun Hasani, S.Kep., membawakan materi “Hipotermia”. Dalam sesi penjelasannya beliau mengatakan Hipotermia pada bayi baru lahir bukan sekadar masalah kedinginan biasa. Ketika suhu tubuh bayi turun di bawah 36,5°C, seluruh sistem tubuhnya bisa terganggu mulai dari kemampuan menghisap, pernapasan, hingga fungsi jantung. Hipotermia yang tidak segera ditangani bisa berujung pada hipoglikemia, asidosis metabolik, bahkan gangguan pembekuan darah. Itulah mengapa tenaga kesehatan harus mengenali tanda-tandanya sedini mungkin.
Sesi keempat, dr. Achmad Zani Agusfar, Sp.OG (K) menjelaskan mengenai “HPP dan PEB” bahwa “Ibu hamil yang mengeluh nyeri kepala hebat, penglihatan kabur, disertai tekanan darah tinggi dan proteinuria harus segera diwaspadai. Bila sampai terjadi kejang atau penurunan kesadaran, kondisi ini sudah masuk kategori darurat yang tidak boleh ditunda penanganannya. Selain itu, perdarahan lebih dari 500 ml setelah bayi lahir adalah alarm merah. Penyebabnya beragam, mulai dari atonia uteri, robekan jalan lahir, hingga gangguan pembekuan darah, dan masing-masing membutuhkan respons yang cepat dan tepat. Beliau juga menambahkan terkait kunci-kunci penanganan kegawatdaruratan maternal: “stabilisasi, kolaborasi tim, dan rujukan yang terencana. Tidak ada satu pun tenaga kesehatan yang bisa bekerja sendiri dalam kondisi seperti ini.”
Sesi berikutnya, dr. Opy Dyah Paramita, M.Si.Med, Sp.A., MPH yang menjelaskan mengenai “Gawat Nafas Bayi Baru Lahir”. Beliau menjelaskan bahwa penyakit membran hialin atau RDS adalah salah satu penyebab kematian neonatus yang masih tinggi dan bertanggung jawab atas 20% kematian bayi baru lahir. Bayi prematur di bawah 32 minggu adalah kelompok yang paling rentan dan harus mendapat penanganan intensif sejak awal.
Sesi dari Eka Lestari S.Tr, Keb yang membawakan materi “Pemantauan Intrapartum” dalam materinya menegaskan “DJJ di luar rentang 110–160, air ketuban bercampur mekonium, atau gerakan janin yang berkurang adalah sinyal bahaya yang tidak boleh diabaikan. Bila tanda-tanda fetal distress muncul, resusitasi intrauterin harus segera dimulai sambil mengevaluasi apakah persalinan perlu dipercepat.”
Sebagai penutup rangkaian sesi materi, kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi drill menggunakan skenario kasus maternal dan neonatal yang dipimpin oleh dr. Achmad Zani Agusfar, Sp.OG (K). Kasus yang diangkat merupakan kondisi yang kerap ditemui dalam pelayanan sehari-hari. Pada sesi ini, peserta melakukan praktik langsung dalam menangani kasus menggunakan manekin serta alat resusitasi yang telah diperkenalkan, sehingga keterampilan yang diperoleh dapat diaplikasikan secara nyata di lapangan.
Workshop ini menjadi langkah nyata RSIJ Cempaka Putih dalam memperkuat penanganan kasus kritis ibu dan neonatus yang membutuhkan kesiapan semua pihak secara bersamaan antara rumah sakit, tenaga kesehatan, dan fasilitas layanan kesehatan lainnya. Dengan peningkatan kompetensi dan penerapan patient safety, diharapkan setiap pasien, khususnya ibu dan bayi, dapat memperoleh penanganan yang cepat, tepat, dan aman, sehingga berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi.